Rabu, 25 Desember 2013
Renungan Solo BIVOAC "Pelantikan SSG DT 26"
Saudaraku...
Dengarkanlah suara alam ini,...sesungguhnya saat ini tumbuhan, angin, air, hewan dan seluruhnya sedang bertasbih kepada Allah SWT.hhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar. Allah pasti sedang menatap, menyaksikan kita saat ini, setiap saat. mudah-mudahan dengan dzikir yang banyak Allah senantiasa berada di dekat kita.
Maha suci Allah Pemilik jagat raya ini, yang menguasai jiwa raga kita, Dia lah yang menghembuskan angin, menggerakkan dan menguasai segala hewan, tumbuhan dan makhluk yang ada di sekeliling kita saat ini. Sekiranya Allah berkehendak, mudah saja bagi Allah untuk menurunkan hujan lebat, angin yang kencang, sehingga bivoac kita hancur berantakan, mudah bagi Allah untuk mendatangkan hewan juga makhluk lainnya untuk mengganggu kita saat ini, namun juga jika Allah berkehendak-tidak ada satupun yang dapat menimpa kita, maka bersungguh-sungguhlah memohon pertolongannya.
Lafadzkan dengan lirih .... A'UDZU BIKALIMATILLAAHITTAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ"
Saudaraku, yakinilah.... saat ini Ibu-Bapak kita begitu cemas, khawatir dengan keselamatan kita, sekiranya mereka hadir saat ini, tentu mereka dengan sukarela membantu mendirikan bivoac, menyiapkan makanan, memberikan selimut agar kita merasa hangat..begitulah sebagian dari kasih sayang mereka...Lalu...bagaimana dengan kita, sikap kita pada keduanya..jangan-jangan ibu-bapak kita menyesal telah melahirkan dan membesarkan anak yang sering menyakitinya, membuatnya kecewa...
Saudaraku, relakah kita menjerumuskan keduanya ke dalam kobaran api neraka? Padahal mereka begitu tulus menyayangi kita, bahkan jiwa ragapun berani mereka kobarkan agar anaknya bahagia.
Saudaraku, berdoalah untuk mereka, doakan agar mereka selamat dunia akhirat, selamat dari siksaan kubur selamat dari api neraka, berjanjilah untuk berbakti membahagiakan keduanya. Semoga belum terlambat. Sebelum tubuh mereka terbujur kaku, terbalut kain kafan.
"ALLAHUMMAGFIRLI WALIWALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYYANIISHOGIROO"
Saudaraku, ingatlah dosa yang sering kita lakukan pada Allah. Sering maksiat, lalai taat, sangat sedikit bahkan tak pernah khusyuk dalam sholat. Ingat pula berapa banyak saudara, teman, tentangga atau siapapun yang tersakiti, terdzolimi oleh sikap dan perlikau kita.
Saudaraku, bertaubatlah. Istighfarlah, mohon ampunan-Nya. Sebelum ijal menjemput, mumpung masih ada kesempatan.
Santri Siap Guna Daarut Tauhiid
Minggu, 16 Juni 2013
Mengais Rezeki di Malam Hari
Pagi-pagi seperti biasa saya selalu datang terlambat dengan berbagai alasan ( gara-gara ngepel dulu-lah, bangun kesiangan sampai macet saya berikan alasan yang kuat kepada dosen). Setelah saya beres kuliah saya lanjut ke dunia bisnis, ya bisa dibilang merupakan hobby yang lagi-lagi gak boleh dilewatkan begitu saja. Karena dengan bisnis, saya banyak belajar mencari rezeki dengan keringat sendiri bersama sahabat @EDGE_PRODUCT tapi kali ini saya berani mencoba belajar sendiri bagaimana senangnya mengangkat barang2 clothing..hihi lumayan perjuangannya loh!!! Di mulai ngurusin duitnya sendiri, ngangkat barang2nya sendiri dari UPI ke Polban ditambah macet+ngetem angkot..dari siang jam 2 sampai jam 5.30 sore cuma kegiatannya nganterin barang pesanan orang, benar-benar melelahkan juga.
Kegiatan saya lanjut kembali dengan mengajar privat anak SMP jam 20.00. Asalnya saya sudah menolak untuk tidak mengajar hari ini karena pengen ikut bareng2 anak SCIEmics UPI + FOSSEI JABAR menghadiri syukuran kang Aris yang telah beranjak usia 21 tahun dan akhirnya berhasil juga bisa ikut silahturahmi. Walaupun hanya beberapa menit disana, setidaknya saya bisa kenalan sama Teh Reisya dari UNPAD, Teh Dessy dari UIN Bdg dll lumayan nambah link info2 kampus mereka...hehe Setelah itu, perjuangan pulang belum berakhir karena tepat jam 20.00 teng, saya harus bergegas-gegas mengajar di Jln.Venus Barat IV/38 Metro Soekarno Hatta Bandung. Untungnya jarak dari rumah uwa untuk ke tempat mengajar tidak begitu jauh.
Setiba di Komplek Margahayu Raya HP SAYA LOBET!!! Tadinya sih pengen langsung ngajar pas turun dari angkot... ya terpaksa pulang dulu buat ngecas hp. Dipikir-pikir kalau saya pulang dulu pasti dimarahin uwa kalau nantinya harus ngajar malam-malam. Alhamdulillah, pas tiba di rumah gak ada sapa-sapa, 'aman ngajar, bisa dilanjut nih kayanya!!', dalam benak saya.
Keluar lagi deh saya dari rumah. Pokoknya hari ini harus bisa ngajar walaupun belum tau rumah alamat yang mau diajarin secara pasti. Saya cari tuh tukang becak buat nganter. Biasanya kan kalau mau naik becak kebiasaannya melakukan harga tawar-menawar dulu biar gak ketipu. Eh taunya naik becak ke METRO Rp 8.000/jalan. Lumayan mahal juga, tapi gak apa2-lah daripada jalan kaki nyampenya lama.
Dan biasanya kalau saya naik becak, pasti saya suka nanya-nanya tentang keluarga mang tukang becak..hehe lumayan cari-cari pengalaman tentang kehidupan tukang becak.
"Mang, udah lama jadi profesi tukang becak?"...sapa saya kepada tukang becak.
"dah lama neng, mang dah 20 tahun jadi tukang becak sebelum neng lahir, ya alhamdulillah bisa membiayai sekolah anak-anak"...kata tukang becak
"mang punya anak berapa?" tanya saya
"tiga neng, yang satu kelas 3 smp, yang satu kelas 4 SD,yang satunya lagi dah meninggal. emang mah kasian sama anak mang yang pertama, mang bingung apa bisa anak mang lanjut ke SMA, padahal biaya SMA kan mahal apalagi anak mang gak pintar kaya neng"...jawab si tukang becak dengan tangis rindunya mengingat anak pertama
Dalam benak pikiran saya, saya teringat kalau saya sendiri punya link info beasiswa dari depdiknas siapa tahu saya bisa bantu masalah mang becak.
"Mang, ikutan beasiswa aja biar anak mang bisa lanjut ke SMA??" tanya saya dengan bangganya kepada tukang becak
"ya neng, anak mang kan gak pintar, mana bisa dapat beasiswa, semangat belajar aja masih kurang" sahut mang becak
"mang, tahu gak sekarang tuh banyak beasiswa bagi mereka dari anak desa yang kurang mampu loh?" jawab saya
"gak ahh neng, anak mang gak pantes dapat beasiswa, klw beasiswa kan syaratnya harus pintar".. kata mang becak sambil malu bahwa anak pertamanya belum pantes dapat beasiswa.
Subhanallah, padahal kan zaman sekarang banyak orang yang mengaku bahwa dirinya pantes dapat beasiswa kurang mampu tapi sebenernya mampu beli motor, handphone canggih, jalan-jalan buat shopping, main bareng ke tempat rekreasi bareng temen tapi mang becak sendiri yang kerjanya dari pagi sampai malam hari masih bersemangat mencari makan demi keluarganya. Sedangkan,saya malu sebagai penerima beasiswa unggulan dari depdiknas, apakah saya sendiri dapat beasiswa sudah berkontribusi untuk memberikan kebermanfaatan kepada orang sekitar. Bisa jadi uang beasiswa yang saya dapat berasal dari uang rakyat salah satunya dari mang tukang becak, dimana mang becak mencari uang pontang-panting tanpa mengenal lelah dengan bekerja sampai larut malam. Berarti, bisa dibilang saya sama saja dengan orang-orang KPK yang kerjaannya ngambil uang rakyat,meras keringat rakyat astagfirulloh!!! Ya Allah, maaafkan hamba-mu ini.
Mulai hari ini saya harus banyak belajar dari mereka yang hidupnya berasal dari kalangan bawah, agar ketika saya sukses, saya punya kewajiban untuk menyisihkan sebagian harta saya kepada yang berhak menerimanya.
"Neng, dah nyampe, bener kan disini rumahnya?"panggil mang becak kepada saya.
"Oh iya mang, bener, bentar ya mang saya ketuk pintu dulu rumah orangnya, kalau misalnya gak ada yang ngbukain pintu, mang anterin saya lagi ke rumah di blok A-2.." gumam saya sambil tersenyum
"Ok boleh".. jawab mang becak sambil terlihat lelah yang sudah menganterkan saya sampai ke tempat tujuan.
Setelah saya tekan tombol bel beberapa kali, kayanya yang punya rumah dah pada tidur, wah siap-siap nih saya kena pelanggaran gak ngajar hari ini, ya ggp-lah tapi hari ini saya sungguh beruntung bisa bertemu dengan tukang becak yang baik hati.
"mang, kayanya gak ada sapa2, anter saya lagi ke rumah ya di blok A-2" tanya saya pada mang becak
"siap neng" kata mang becak
Akhirnya tiba juga di rumah.
"Mang, jadi berapa tarif becaknya?" tanya saya
"ya dah ni saya kasih 20 ribu ambil aja kembaliannya" kata saya
"Makasih ya neng" jawab emang dengan senangnya bisa mendapatkan rezeki di malam hari
"Oh iya, klw anak mang berminat untuk mengikuti beasiswa yang saya tawarkan tadi tinggal hub. saya di no 085294427630 ya,,," sapa saya kepada mang becak
"Ok neng, bentar mang keluarin dulu hp-nya" kata mang becak
"sip makasih ya mang atas jasa antar pulangnya" kata saya yang sudah merasa berdosa mencari alamat rumah orang lain berjam-jam dengan menggunakan jasa tukang becak dengan bayaran tak seberapa.
Terima kasih mang becak, cerita pengalaman mang becak akan saya jadikan motivasi semangat hidup saya. Dan saya sadari belajar bukan hanya mendapatkan pengalaman dari kalangan orang sukses saja, coba juga kita jangan malu bertanya untuk belajar dari kehidupan kalangan orang-orang pinggiran jalan, sapa tahu dengan melihat kehidupan mereka yang serba susah bisa menjadikan pelajaran bagi kita, karena ada sebagian harta yang belum kita serahkan kepada mereka yang berhak membutuhkannya.
- di 01.49
- Diposting oleh WOMENPRENEUR IS MY DREAM
- 0 komentar
Ciptakan Keikhlasan

Belajar ikhlas harus perlahan-lahan dalam menilai kepribadian ini. Jika orang lain menilai keikhlasan, mereka hanya melihat dari tingkah laku dan ucapan tapi hati ini siapa yang tahu.
Sedih rasanya saat dibanggakan menjadi orang ikhlas namun diri sendiri belum merasa ikhlas. Siapa yang dapat mengobati hati ini? Apakah penilaian ikhlas menjadi hal yang termudah untuk dinilai?
Perlu kita pahami penilaian orang lain dalam menilai keikhlasan adalah bentuk tanda syukur bahwa mereka masih mempercayai dan peduli dengan kita. yang paling penting keikhlasan hati inilah yang harus diobati, dijaga dan diperbaiki.
Percayalah pada diri sendiri untuk menciptakan kerelaan dan keikhlasan dalam menjalankan hidup. Ingatlah Allah selalu bersama-mu. Mintalah perlindungan kepada-Nya. dan mulailah belajar menghargai diri-sendiri. Jika sudah ternodai hati ini berarti kita belum bisa menghargai diri sendiri termasuk menghargai yang Maha Pencipta "Allah SWT"By: Melly lydea (@mellylydea )
web : http://lmerru.blogspot.com
- di 01.45
- Diposting oleh WOMENPRENEUR IS MY DREAM
- 0 komentar
Minggu, 19 Mei 2013
Aku ingin "BERSEDEKAH"
Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya. Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan. Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, "Betapa beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di tempat ini!" Mereka hidup di sebuah komplek yang terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia luar.Sore itu saya diminta bersilaturrahmi dengan sebuah majlis taklim kaum ibu di sana. Tema yang diminta membuat saya berpikir keras untuk mencari referensinya. BEROBAT DENGAN SEDEKAH!!! "Darimana saya harus memulai...?" saya membatin.
Alhamdulillah atas izin Allah Swt ceramah pengantar yang saya berikan terasa nikmat. Jangankan untuk mereka kaum ibu yang mendengarkannya, saya sendiri saja merasakan kenikmatan itu. Rupanya Allah Swt memberi keberkahan pada majlis kami saat itu. Tanpa terasa saya dapati beberapa 'ilmu ladunni' yang Allah berikan. Sehingga saya belajar saat mengajar. Menjadi mengerti bersama orang-orang yang mencari pemahaman.
Allah mewariskan ilmu yang diketahui seseorang, asalkan ia mengamalkan ilmu yang sudah pernah ia ketahui. (Muhammad Saw)
Usai pembicaraan kurang lebih sekitar setengah jam, maka saya menawarkan kepada peserta majlis untuk bertanya dan berdialog. Di sana rupanya ada seorang ibu berusia lebih dari 40 tahun, sebutlah namanya Reni. Tiba-tiba ia mengacungkan tangan dan ternyata ia bukan hendak bertanya akan tetapi ia ingin berbagi pengalaman kepada semua peserta yang hadir. Reni pun memulai kisahnya:
Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya.
Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa.
Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Reni!
Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini.
Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih, rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya.
Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari masalah ini. Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka
Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa.
Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. Setibanya di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, datangkan untukku seorang pengemis yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!"
Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat berharap untuk bisa bersedekah kali itu.
Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah doa dari Allah Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya. Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa berpraktek.
"Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?!" tanya sang suami. Reni menjawab dengan yakin,
"Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan penyakitku, Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak mendebat.
Memang di saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan mereka.
Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, saya belum tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa.
Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan.
Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan. Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali... Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang membuat Reni terdesak untuk buang air.
Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini.
Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu, seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali. Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba ia teringat akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam tas dan mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter Yusfa menerima plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk memeriksakan hal ini!"
Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk mereka.
Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari, bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras, "Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah....!!! Saya baru mengerti rupanya pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami... dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana cara kanker ini bisa gugur dengan sendirinya...?!"
Subhanalllah.... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang sudah ia cita-citakan.
Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan.
- di 22.06
- Diposting oleh WOMENPRENEUR IS MY DREAM
- 0 komentar
Langganan:
Komentar (Atom)




